Ketika Seharusnya Aku Berkata ” Sebatas Aku Mampu”
Akhirnya mid semester sudah mencapai titik penghabisannya. Sudah terlewat saat-saat tidak ada lagi suara-suara riuh di sekitarku yang terkadang justru semakin membuat suasana ketegangan tes terasa. Saat-saat ketika sudah tak ada kata rileks, meskipun terkadang aku berusaha menyembunyikan perasaanku itu di balik topeng wajahku yang mungkin membuat alisku selalu bertaut. Membuat wajahku terlihat berantakan. Tapi apa benar aku sudah lepas dari perasaan gamang itu? Rasa-rasanya masih ada yang mengganjal di sini yang tidak mau pergi meskipun mid test sudah selesai… apa ya?
Aku masih mematung di sini. Berpikir. Tepatnya berusaha sekuat kemampuan otakku untuk memahami sebenarnya kegamangan apa yang sampai sekarang masih betah bersarang di tubuhku. Apa yang membuat alisku masih tetap bertaut – stres. Sampai akhirnya aku teringat sesuatu. Ketika aku terlibat pembicaraan dengan segerombol teman, membahas soal. Membahas jawaban kami yang berbeda-beda sampai kami bingung sendiri mana jawaban yang sebenarnya benar. Ya, akhirnya aku sadar. Aku ingat. Aku ingat akan seberapa buruk pekerjaanku. Seberapa banyak kesalahan yang aku buat di setiap lembar jawab. Argh, tak terhitung. Naluriah, aku jadi takut. Takut kalau-kalau nilaiku tidak lebih daripada nilai-nilai tesku sebelumnya, atau lebih buruk??
Oh, jadi ini. Jadi inilah hal yang selama ini ingin aku pikirkan. Ini yang sebenarnya ingin disampaikan naluriku, tapi aku tidak menyadarinya.
Aku masih takut. Semakin takut malah. Seiring dengan waktu yang berjalan yang membuat guru-guru menjadi telah menyelesaikan tugas membosankan mereka yaitu mengoreksi hasil tes. Aku masih khawatir. Tidak yakin kalau aku bisa mendapat hasil yang baik. Jauh dari yakin.
Sampai akhirnya aku menemukannya. Cuma secarik kertas yang masih melekat dalam bendel buku. Cuma dua baris kalimat yang ditulis dengan huruf italic. Isinya
Hal yang benar-benar kau yakini pasti akan selalu terjadi;
Dan keyakinan akan suatu hal yang menyebabkan terjadi
-Frank Lloyd Wright-
Oh, aku terkesiap. Apa aku selama ini sudah yakin pada diriku sendiri? Apa aku sudah meyakini bahwa aku melakukan hal yang terbaik dalam batas kemampuanku? Belum. Terkesiap lagi aku akhirnya sadar, betapa aku memandang rendah diriku sendiriku. Betapa aku tak pernah mencoba memahami bahwa tubuhku, setiap sel yang menyusunnya, berusaha keras untuk mengimbangi ambisiku yang terkadang di ambang batas. Betapa aku tak pernah benar-benar yakin akan kemampuanku. Hmmm… apakah hal itu yang menyebabkan orang-orang berkata bahwa manusia hanya menggunakan sepuluh persen dari kemampuannya? Karena mereka sendiri tak pernah benar benar yakin bahwa mereka bisa melakukannya. Well, akhirnya aku harus mengakui, aku telah melakukan semua dengan baik. Dengan baik sebatas aku mampu. Sebatas apa yang telah Allah sesuaikan dengan kapasitas otakku. Sebatas apa yang memang telah aku usahakan sebelumnya. Aku… berusaha untuk yakin, aku telah melakukan yang baik.
Dan ketika aku membaca apa yang pernah dikatakan-Nya
“ …Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka, dan bertawakkallah kepada Allah, cukuplah Allah menjadi pelindung.”
(QS. An Nisaa’ : 81)
Subhanallah… Tersadarlah aku bahwa Allah juga telah mengatur apa yang akan aku dapatkan. Allah yang paling memahami seberapa besar balasan yang setimpal yang pantas Ia berikan padaku atas segala hal yang aku lakukan. Maka, aku berserah padanya setelah apa yang selama ini aku lakukan. Setelah apa yang aku yakini. Setelah apa yang aku harapkan. Aku harus menyerahkan semua pada-Nya, karena sesungguhnya Dialah tempat sebenar-benarnya aku berserah. Allah is the only One we will come back to.
*purirahmaPI66*










Tinggalkan comment mu !