Terusir dari Kota Kelahiran Akibat Konflik
16/01/2009 06:44.
Hingga kini, ratusan ribu warga Palestina terusir dari tanah kelahirannya akibat konflik dengan Israel. Terpisah dari keluarga tentu menjadi cerita muram bagi warga Palestina yang kini menetap di Mesir.
Jamal Sulaiman, misalnya. Saat berusia tujun tahun, Jamal bersama keluarganya pindah ke wilayah Gaza. Dia terusir dari kota kelahirannya, Beer-Sheba. Sebab, wilayah ini menjadi bagian dari Israel, negara yang ketika itu baru dibentuk, Usia 22 tahun, Jamal melanglang buana, termasuk ke Indonesia untuk bekerja. Namun saat ingin pulang ke Gaza, dia tak diizinkan Israel. Padahal, sebagian besar keluarganya hingga kini tinggal di Gaza. Akhirnya Jamal memilih tinggal di kawasan Rafah, Mesir, yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari perbatasan Gaza.
Dia berharap suatu saat bisa kembali ke tanah Palestina. “Saya pasti akan kembali ke tanah kelahiran saya. Kalau tidak, anak atau cucu saya yang akan kembali ke sana. Saya tak akan membiarkan satu jengkal tanah pun diambil israel,” kata Jamal kepada reporter Mauludin Anwar dan kameraman Yon Helfi. Jamal hanya satu dari ratusan ribu warga Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya.
Hak kembali ke Palestina menjadi bagian dari kesepakatan damai dengan Israel yang pernah diusulkan pihak Palestina, termasuk Hamas. Namun, ditolak Israel. Sementara itu, Israel kembali menjadikan bangunan milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai sasaran tembak. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon marah dan menuntut penjelasan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert saat keduanya bertemu di Tel Aviv, Israel.
Olmert meminta maaf atas serangan itu. Olmert berdalih serangan pejuang Hamas dari bangunan tersebut memicu jatuhnya rudal Israel. Namun, hal ini dibantah tegas Juru Bicara PBB Chriss Guinness. Selain tak ada peringatan lebih dahulu dari militer Israel, staf internasional PBB mengklaim tak melihat adanya aktivitas para pejuang Hamas di bangunan tersebut. Chriss pun menuntut dilakukannya penyelidikan menyeluruh terkait inisiden ini.
Di hari ke-20 agresi Israel, korban terus berjatuhan. Lebih dari 1.100 orang tewas. Salah satunya petinggi Hamas yang pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, Said Siam. Dia tewas beserta saudara dan anaknya. Sedangkan 4.500 lebih cedera. Sementara itu, upaya diplomasi terus digalang sejumlah pemimpin dunia, yaitu Mesir, Jerman, serta Jepang. Namun, hingga kini belum ada titik terang. Petinggi Hamas, Khalid Meshaal, kembali menegaskan tak akan turut dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Israel jika tidak dipenuhi empat syarat. Yaitu penghentian agresi Israel, penarikan militer Israel dari wilayah Gaza, penghentian blokade, serta dibukanya semua pintu perlintasan dengan Gaza.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)
www.liputan6.com










Tinggalkan comment mu !